Author Archives: admin_marketing

Kenali Kanker Leher Rahim

Category : articles

Kanker leher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh dari jaringan leher rahim atau cervix uteri. Biasa juga disebut dengan kanker serviks. Leher rahim adalah bagian bawah rahim yang menyempit dan menghubungkan rongga rahim dengan vagina (jalan lahir).

Kanker leher rahim biasanya lambat berkembang, kira-kira  12-15 tahun. Sebelum menjadi kanker, sel-sel di dinding leher rahim mengalami perubahan sifat yang disebut displasia. Di kemudian hari, sel-sel kanker mulai bertumbuh dengan cepat dan menyebar baik ke dalam leher rahim maupun jaringan di sekitarnya.

Mengapa Saya Dapat Terkena Kanker Leher Rahim?

Penyebab kanker leher rahim yang pasti sulit diketahui. Para ahli hanya dapat menemukan beberapa faktor risiko atas terjadinya kanker leher rahim. Namun, jika tidak terdapat faktor risiko, tidak berarti seseorang bebas terkena kanker.

Faktor risiko utama kanker leher rahim adalah infeksi virus yang disebut human papillomavirus (HPV). Tidak semua perempuan yang mengalami infeksi HPV akan terkena kanker, hanya kira-kira 5% saja, karena 95% infeksi HPV akan menghilang dengan sendirinya.

Ada lebih dari 150 jenis HPV, tetapi hanya sedikit saja yang dapat menyebabkan kanker leher rahim, yang terbanyak adalah HPV tipe 16 dan 18. Tipe lainnya adalah 31, 33, 35, 45, dsb. Kelompok HPV yang menyebabkan kanker leher rahim disebut tipe risiko tinggi. Jika seorang perempuan terinfeksi HPV tipe risiko tinggi, ada kemungkinan infeksinya akan menetap, tidak menghilang, dan menyebabkan perubahan pra-kanker.

Sebagian besar perempuan yang sudah aktif secara seksual dapat terinfeksi HPV. Infeksi HPV biasanya tidak menyebabkan gejala apapun dan tidak terdeteksi selama bertahun-tahun. Seorang perempuan memiliki risiko lebih tinggi mendapat infeksi HPV jika memiliki lebih dari satu pasangan seks, atau pasangan seksnya memiliki pasangan seks lain.

Faktor-faktor risiko kanker leher rahim lainnya adalah:

  • Sering melahirkan anak;
  • Melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan;
  • Melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia sangat muda;
  • Merokok;
  • Mengkonsumsi pil KB dalam waktu lama (lebih dari 5 tahun).
  • Daya tahan tubuh rendah.

Apa Gejala-Gejala Kanker Leher Rahim?

Tidak ada gejala-gejala khusus pada kanker leher rahim yang baru terjadi. Jika sudah mulai besar, kanker leher rahim dapat memberikan gejala-gejala seperti:

  • Perdarahan dari kemaluan
  • Keputihan yang berlebihan
  • Nyeri sekitar kemaluan
  • Nyeri ketika senggama

Bagaimana Saya Mengetahui Kalau Saya Mengidap Kanker Leher Rahim?

Perubahan sel normal menjadi sel ganas atau kanker sebetulnya terjadi secara bertahap. Tahapan tersebut dapat dilihat di bawah mikroskop oleh dokter patologi yang berpengalaman. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mengetahui adanya kanker leher rahim adalah dengan memeriksakan diri secara dini. Ada beberapa cara deteksi dini kanker leher rahim. Pemeriksaan yang paling dianjurkan adalah Pap smear atau Pap test.

Pap smear adalah prosedur pengambilan sel-sel dari permukaan leher rahim dan vagina dengan suatu alat (spatula) yang dilapisi kapas. Sel-sel yang terambil kemudian diletakkan di gelas objek dan dilihat di bawah mikroskop untuk mengetahui apakah normal atau tidak.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Saya Didiagnosis Kanker Leher Rahim?

Jika Anda baru didiagnosis mengidap kanker leher rahim, maka Anda perlu menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui sejauh mana kanker telah menyebar dalam tubuh Anda, apakah masih di leher rahim atau sudah ke bagian tubuh lainnya. Untuk itu, Anda akan diminta menjalani pemeriksaan-pemeriksaan berikut:

Pemeriksaan dalam, yaitu pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis ginekologi dengan memasukkan jari ke dalam vagina Anda. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa jauh tumor telah menyebar secara klinis dan menentukan stadium penyakit.

Foto Rontgen dada, yaitu pemeriksaan sinar X ke rongga dada untuk melihat bayangan organ di dalam dada, seperti jantung dan paru-paru. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda sel kanker telah menyebar ke paru-paru.

Ultrasonografi (USG) ginekologi, yaitu pemeriksaan dengan gelombang suara frekuensi tinggi terhadap organ reproduksi bagian dalam, yaitu rahim, indung telur dan struktur lain di sekitarnya, seperti ginjal, saluran kemih, buli-buli, dan usus besar. Pemeriksaan ini dapat membantu mengkonfirmasi stadium penyakit yang telah ditentukan secara klinis. USG dapat melihat apakah kanker menyebabkan penyumbatan saluran kemih dan pembengkakan ginjal, menembus buli-buli ke arah depan atau menembus usus besar ke arah belakang.

CT scan atau MRI, yaitu pemeriksaan pencitraan yang lebih rinci terhadap bagian dalam tubuh Anda dan diolah oleh komputer. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi jika terdapat penyebaran sel kanker ke organ-organ dalam tubuh Anda, seperti hati, limpa, ginjal, dan lainnya.

Biopsi tumor, yaitu pengambilan sedikit jaringan kanker leher rahim untuk mengetahui jenis sel kankernya.

Stadium Kanker Leher Rahim

Stadium 1, Pada stadium 1, kanker telah terbentuk di dalam lapisan leher rahim. Stadium I dibagi menjadi dua, yaitu stadium IA dan IB berdasarkan kedalaman kanker yang ditemukan.

  1. Stadium IA: sejumlah kecil sel kanker ditemukan pada jaringan serviks dengan menggunakan mikroskop. Stadium IA dibagi menjadi stadium IA1 dan IA2:
  • Stadium IA1: kanker memiliki kedalaman tidak lebih dari 3 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm.
  • Stadium IA2: kanker memiilki kedalaman antara 3-5 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm.
  1. Stadium IB: pada stadium IB, kanker hanya dapat dilihat dengan mikroskop dan memiliki kedalaman lebih dari 5 mm atau lebar lebih dari 7 mm, atau dapat dilihat tanpa mikroskop. Kanker yang dapat dilihat tanpa mikroskop dibagi menjadi dua, IB1 dan IB2, berdasarkan ukuran tumor.
  • Stadium IB1: kanker dapat dilihat tanpa mikroskop dan tidak lebih dari 4 cm.
  • Stadium IB2: kanker dapat dilihat tanpa mikroskop dan lebih dari 4 cm.

Stadium II, Pada stadium II, kanker telah menyebar ke luar leher rahim tetapi belum ke dinding panggul (jaringan yang melapisi bagian tubuh di antara kedua panggul) atau sepertiga bawah vagina. Stadium II dibagi menjadi IIA dan IIB, berdasarkan sejauh mana kanker telah menyebar.

  1. Stadium IIA: Kanker telah menyebar ke luar serviks sampai dua pertiga atas vagina tetapi tidak ke jaringan di sekitar rahim.
  2. Stadium IIB: Kanker telah menyebar ke luar serviks sampai dua pertiga bagian atas vagina dan jaringan di sekitar rahim.

Stadium III, Pada stadium III, kanker telah menyebar ke sepertiga bagian bawah vagina atau ke dinding panggun, dan/atau telah menyebabkan ginjal tidak berfungsi. Stadium III dibagi menjadi stadium IIIA dan IIIB, berdasarkan sejauh mana kanker telah menyebar.

  1. Stadium IIIA: Kanker telah menyebar ke sepertiga bagian bawah vagina tetapi tidak ke dinding panggul.
  2. Stadium IIIB: Kanker telah menyebar ke dinding panggul dan/atau tumor berukuran cukup besar sehingga menekan dan menyumbat ureter (saluran keih antara ginjal dan buli-buli). Penyumbatan ini menyebabkan ginjal membengkak atau tidak berfungsi. Sel-sel kanker juga mungkin telah menyebar ke kelenjar getah bening di panggul.

Stadium IV, Pada stadium IV, kanker telah menyebar ke buli-buli, rektum, atau bagian lain tubuh. Stadium IV dibagi menjadi stadium IVA dan IVB berdasarkan di mana penyebaran kanker ditemukan.

  1. Stadium IVA: Kanker telah menyebar ke buli-buli atau dinding rektum (usus besar bagian bawah) dan mungkin telah menyebar ke kelenjar getah bening di panggul.
  2. Stadium IVB: Kanker telah menyebar ke luar panggul dan kelenjar getah bening panggul ke tempat-tempat lain di dalam tubuh, seperti hati, usus halus, atau paru-paru.

Pengobatan Kanker Leher Rahim 

Ada beberapa jenis pengobatan untuk kanker leher rahim, yaitu operasi (pembedahan), radiasi dan kemoterapi.

Bedah, Tindakan pembedahan dilakukan untuk mengangkat tumor. Ada beberapa prosedur yang dapat dilakukan:

  1. Konisasi: prosedur mengangkat jaringan berbentuk kerucut dari leher rahim dan saluran leher rahim (cervical canal). Prosedur ini disebut juga dengan biopsi kerucut (cone biopsy).
  2. Histerektomi total, yaitu pengangkatan seluruh rahim, termasuk leher rahim. Jika dilakukan melalui vagina, tindakan ini disebut histerektomi vaginal. Jika dilakukan melalui sayatan di dinding perut, tindakan ini disebut histerektomi abdomen total (total abdominal hysterectomy). Jika dilakukan melalui alat laparoskopi, operasi ini disebut histerektomi total laparoskopik. Saat ini operasi robotik merupakan pilihan yang optimal untuk mengambil jaringan sakit dengan tepat, akurat dan aman.
  3. Histerektomi radikal, yaitu pengangkatan seluruh rahim, leher rahim, sebagian vagina, dan jaringan luas di sekitarnya, termasuk urat-urat (ligamen), indung telur (ovarium), saluran indung telur (tuba Fallopii), dan kelenjar-kelenjar getah bening di sekitarnya.
  4. Histerektomi radikal modifikasi, yaitu pengangkatan rahim, leher rahim, bagian atas vagina, urat-urat dan jaringan yang paling dekat dengan organ-organ tersebut. Kelenjar getah bening yang dekat juga mungkin terambil. Jenis pembedahan ini tidak mengangkat jaringan sebanyak histerektomi radikal.
  5. Salpingo-ooforektomi bilateral, yaitu pengangkatan kedua indung telur dan salurannya.
  6. Eksenterasi pelvis, yaitu pengangkatan bagian bawah usus besar, rektum, dan buli-buli. Leher rahim, vagina, kedua indung telur dan kelenjar getah bening terdekat juga diangkat. Pada pasien dibuat lubang buatan (stoma) untuk tempat keluar air kemih dan kotoran dari tubuh ke suatu kantung penampung.
  7. Bedah beku (cryosurgery), yaitu operasi menggunakan alat untuk membekukan dan menghancurkan jaringan abnormal, misalnya untuk karsinoma in situ. Tindakan ini juga disebut cryotherapy.
  8. Laser surgery: Suatu prosedur bedah yang menggunakan berkas sinar laser sebagai ‘pisau’ untuk memotong jaringan tanpa perdarahan atau untuk mengangkat tumor.
  9. Loop electrosurgical excision procedure (LEEP), yaitu tindakan yang menggunakan arus listrik yang diteruskan melalui kawat tipis sebagai pisaunya untuk membuang jaringan abnormal atau kanker.

Radiasi (Penyinaran), Terapi radiasi adalah pengobatan kanker dengan menggunakan sinar X berenergi tinggi atau radiasi sinar lain untuk membunuh sel-sel kanker atau mencegah pertumbuhan berikutnya. Terdapat dua jenis terapi radiasi, yaitu radiasi luar (eksternal) dan radiasi dalam (internal). Radiasi eksternal dilakukan menggunakan mesin di luar tubuh yang memancarkan radiasi ke arah kanker. Radiasi internal dilakukan dengan menggunakan zat radioaktif yang ditempatkan langsung di dalam atau di dekat lokasi kanker. Jenis dan cara pemberian radiasi tergantung jenis dan stadium kanker yang diobati.

Kemoterapi, Kemoterapi adalah pengobatan kanker yang menggunakan obat-obatan untuk menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker, baik dengan membunuh sel-sel kanker atau mencegah mereka membelah (berkembang biak). Kemoterapi biasanya dilakukan dengan memasukkan obat ke dalam pembuluh darah (injeksi).

Pemilihan Terapi Berdasarkan Stadium KankerPra-Kanker Leher Rahim:

Terapi untuk lesi pra-kanker leher rahim dapat dilakukan antara lain dengan:

  • LEEP
  • Bedah Laser
  • Konisasi
  • Cryosurgery
  • Histerektomi total untuk perempuan yang tidak bisa atau tidak mau lagi memiliki anak.
  • Radiasi internal untuk perempuan yang tidak dapat menjalani operasi.

Kanker Leher Rahim Stadium IA

Pilihan terapi untuk stadium IA adalah:

  • Histerektomi total dengan atau tanpa salpingo-ooforektomi bilateral
  • Konisasi
  • Histerektomi radikal modifikasi dan pengangkatan kelenjar getah bening
  • Terapi radiasi internal

Kanker Leher Rahim Stadium IB

Pilihan terapi untuk stadium IB adalah:

  • Kombinasi terapi radiasi internal dan radiasi eksternal
  • Histerektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening
  • Histerektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening diikuti terapi radiasi plus kemoterapi
  • Terapi radiasi plus kemoterapi

Kanker Leher Rahim Stadium IIA

Pilihan terapi untuk stadium IIA adalah:

  • Kombinasi terapi radiasi internal dan radiasi eksternal plus kemoterapi
  • Histerektomi radikal dan pengangkatn kelenjar getah bening
  • Histerektomi radikal dan pembuangan kelenjar getah bening diikuti oleh terapi radiasi plus kemoterapi

Kanker Leher Rahim Stadium IIB

Pengobatan kanker serviks stadium IIB dapat meliputi radiasi internal dan eksternal berkombinasi dengan kemoterapi.

Kanker Leher Rahim Stadium III

Pengobatan kanker leher rahim stadium III dapat meliputi terapi radiasi internal dan eksternal berkombinasi dengan kemoterapi.

Kanker Leher Rahim Stadium IVA

Pengobatan kanker leher rahim stadium IVA dapat meliputi terapi radiasi internal dan eksternal berkombinasi dengan kemoterapi.

Kanker Leher Rahim Stadium IVB

Pengobatan kanker leher rahim stadium IVB dapat meliputi:

  • Terapi radiasi sebagai terapi paliatif untuk mengurangi gejala-gejala yang ditimbulkan oleh kanker dan memperbaiki kualitas hidup.
  • Kemoterapi
  • Uji klinik obat antikanker baru dan obat-obatan kombinasi.

Kekambuhan Kanker Leher Rahim 

Pilihan terapi untuk kanker leher rahim yang mengalami kekambuhan adalah:

  • Eksterasi panggul diikuti oleh terapi radiasi kombinasi dengan kemoterapi.
  • Kemotearpi sebagai terapi paliatif untuk mengurangi gejala-gejala yang ditimbulkan kanker dan memperbaiki kualitas hidup.
  • Uji klinis obat antikanker baru atau obat-obatan kombinasi.

Bagaimana Kemungkinan Pemulihan (Prognosis) Bagi Saya?

Kemungkinan pulih tergantung beberapa faktor, antara lain :

  • Usia Anda dan kondisi kesehatan secara umum;
  • Ada tidaknya HPV tipe tertentu;
  • Stadium kanker;
  • Jenis sel kanker;
  • Ukuran tumor;
  • Respons terhadap pengobatan.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif


Keunggulan Metode Robotic untuk Prostatektomi dan Digestif

Category : articles

Tak hanya di bidang urologi, bedah dengan ‘robot’ ini pun merambah di bidang Digestif. Luka besar pada perut adalah masa lalu. Saat ini dengan teknologi bedah yang mumpuni, yakni robotic surgery maka tindakan operasi pada kasus system disgetive dapat dilakukan dengan minimal invasif. Sementara menurut dr. Reno Rudiman, MSc, SpB(K) BD, FinaCS, FICS, Metode bedah robotic baru diperkenalkan. Sampai saat ini pihaknya telah menangani  dari 165 kasus (bidang Urologi, Kebidanan, dan Digestif) di RS Bunda. “Ini adalah fase untuk memperkuat diri. Jangan sampai kita tidak mempunyai kepercayaan diri, komplikasi minimal tapi hasil maksimal.

Langkah selanjutnya setelah percaya diri adalah menjalin kerja sama dengan rumah sakit lain,” harap dr. Reno. “Ada tiga metode bedah. Bedah dengan operasi atau sayatan besar, laparoskopi, dan operasi dengan robotik. Yang terakhir ini hanya menyebabkan sayatan kecil, instrumennya bergerak sangat akurat dan presisi, karena ada peran robot. Ketiga operasi tersebut semuanya efektif, tapi dari jumlah pendarahan dan waktu penyembuhan yang paling unggul adalah operasi dengan robot,” urai dr. Reno. Dengan teknik operasi ini penyakit seperti batu saluran empedu, tumor prankreas, batu di pankreas, dan lain-lain, dapat diselesaikan.

Dengan bedah robotic, maka dapat meminimalisir luka operasi, memberikan kemudahan untuk memastikan adanya perdarahan, menjangkau daerah yang sulit terlihat dan meminimalisir trauma pasca operasi. Sebagai contoh saat akan dilakukan gastric bypass, jika dilakukan dengan laparoskopy terkadang masih dapat terjadi peradangan. Namun dengan operasi robotik, seperti dengan operasi terbuka, kita dapat mengatur jahitan menggunakan benang resorbable dengan presisi yang luar biasa. “Bedah robotic lebih efisien. Luka dalam juga dijahit dengan baik, jaringan yang dipotong juga ditutup dengan penjahitan. Dengan robotic dibuat sekecil mungkin. Adapun rasa sakit yang muncul, karena luka kulit, bukan karena luka dalam,” imbuh dia.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif

 


Endometriosis dan Dampaknya Pada Rahim

Category : articles

Endometriosis adalah merupakan kondisi medis yang belum bisa diketahui maupun diprediksi penyebab dan implikasinya. Kondisi ini adalah merupakan tumbuhnya jaringan endometrium (selaput rahim) di luar dari tempat yang semestinya. Tempat yang sering ditemukan adalah pada daerah rongga abdomen, rongga panggul, ovarium , saluran telur dan pada daging rahim itu sendiri (adenomyosis).

Beragam penelitian telah dilakukan dan hingga saat ini belum dapat menjelaskan perjalanan penyakit ini. Perlu diketahui bahwa pada umumnya gejala endometriosis dapat berupa nyeri haid, nyeri saat berhubungan, dan infertilitas. Pada tahap awal, endometriosis hampir sulit dideteksi melalui pemeriksaan fisik ataupun USG, dan tes darah. Namun apabila kista endometriosis ini telah berkembang, dokter akan dapat mendeteksinya melalui pemeriksaan USG transvaginal. Salah satu cara terbaik untuk melakukan tindakan medis pada endometriosis adalah tindakan laparoskopi, yakni sebuah teknik pembedahan minimal invasive yang tidak mengakibatkan luka operasi besar.

Apabila nyeri haid berlebih, dan diduga disebabkan oleh endometriosis, maka dokter dapat memberikan penanganan dengan pemberian terapi simptomatik, yakni mengurangi jumlah maupun siklus mens seperti memanfaatkan pil KB untuk menekan jumlah darah saat mens. Terapi hormonal juga dapat dilakukan dengan suntikan KB untuk memberhentikan mens, atau IUD (baca: spiral) yang mengandung hormon progesterone untuk menekan jumlah mens.

Endometriosis juga dapat mengakibatkan infertilitas pada wanita, dalam kasus ini tindakan laparoskopi dapat meningkatkan kemungkinan hamil sampai 70% dalam waktu 12 bulan. Tetapi pada saat kehamilan itu tidak terjadi setelah kurun waktu 12 bulan, 20-40% endometriosis akan kembali dalam kurun waktu 5 tahun. Namun dengan bantuan medis serta treatment yang tepat, wanita yang mengidap endometriosis tetap dapat hamil, sehingga apabila Anda mengalami gejala di atas dan merasa Anda memiliki endometriosis, alangkah baiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan kepercayaan Anda untuk menentukan langkah medis yang tepat.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif


Robotic Surgery untuk Penanganan Endometriosis

Category : articles

Lebih banyak jaringan endometriosis yang dibuang (presisi operasi yang tinggi), sedikit gurat luka, dan waktu penyembuhan yang relative cepat. Itulah keuntungan dari robotic surgery. Endometriosis merupakan penyakit yang menyerang organ reproduksi wanita. Penyakit ini terjadi jika ada jaringan yang biasanya berada di dalam rahim, muncul di tempat lain. Kondisi ini menimbulkan nyeri, terutama saat haid dan dapat menyebabkan kemandulan. Kondisi normal jaringan endometrium melapisi rahim (endo: dalam dan metri: rahim). Jaringan ini lepas saat menstruasi. Namun, sel-sel endometrium terkadang menempel di sembarang tempat. Seperti, indung telur, saluran falopi, saluran cerna, atau rongga panggul. Bisa juga jaringan ini timbul di vagina, mulut rahim, dan kandung kemih. Meski jarang terjadi, endometrium dapat muncul di paru-paru, hati, dan otak. Endometriosis biasanya bersifat jinak, dan bukan sejenis kanker.

Terapi
Saat ini pengobatan endometriosis sudah beragam. Mulai dari cara alami hingga pembedahan. Pembedahan dilakukan jika diameter jaringan endometrium cukup besar, yakni lebih dari 3,8 sentimeter. Jika sudah lebih dari empat sentimeter akan ada risiko terpuntir. Jika perlengketan terjadi di bagian bawah panggul akan dapat menyumbat saluran falopi. Untuk meyakinkan ukurannya, dapat dilakukan USG saat haid. Salah satu teknik pembedahan adalah dengan menggunakan robotic surgery. Dengan cara ini luka sayatan dan bekas operasi cukup kecil. Hanya sekitar empat millimeter. Sementara dengan bedah konservatif luka sayatan dapat mencapai 10 sentimeter. Dibandingkan dengan operasi ‘besar’ luka internal pun sangat sedikit, mengingat jaringan yang dilukai cukup sedikit. Dengan robotic surgery, dokter bedah dapat memiliki visualisasi yang baik. Hal ini dapat terjadi karena alat ini memiliki fitur perbesaran 3D dengan high definition.Alat ini pula memungkinkan ahli bedah untuk melihat jaringan abnormal dengan jelas dan detail. Sehingga dokter bedah dapat menghilangkan seluruh jaringan. Tak hanya itu. Robotic surgery pun memungkinkan ’tangan’ dokter dapat bergerak bebas. Karena metode ini mempunyai instrumen khusus yang dapat menekuk dan memutar jauh lebih besar dari pergelangan tangan manusia. Sehingga hasil operasi dapat lebih presisi, dan terkontrol. Bicara rasa nyeri pasca operasi, dengan robotic surgery, rasa nyeri dapat diminimalis.

Metode ini membuat sedikit luka pada saat dilakukan pembedahan endometriosis. Dengan luka yang kecil, tingkat pemulihan pasien menjadi lebih cepat. Sebagian besar pasien yang menjalani prosedur robotic surgery dalam dua minggu sudah dapat kembali beraktivitas dibandingkan dengan operasi besar selama enam minggu. Mengenai animo masyarakat sendiri terhadap robotic surgery, Hingga tahun 2017 RS Bunda Jakarta menyelenggarakan fasilitas itu, sudah lebih dari 200 kasus medis berhasil ditanganinya.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif


Bedah Robotik Kurangi Rasa Sakit dan Percepat Pemulihan

Category : articles

Robot memang bisa dimanfaatkan untuk apa saja, termasuk untuk proses operasi di dunia kedokteran. Operasi dengan memanfaatkan robot atau bedah robotik bisa mengurangi rasa sakit setelah masa operasi. “Operasi dengan bantuan robot mampu mengurangi rasa sakit pascaoperasi. Pemulihannya juga lebih cepat. Jika operasi biasa bisa seminggu, maka dengan robot bisa satu hari bisa pulang ke rumah .

Dalam hal bedah robotik ini, teknologi tangan robot jadi kepanjangan tangan dokter bedah. Namun, alat-alat yang canggih itu tetap dioperasikan oleh si dokter ahli bedah, bukan oleh si robot. “Luka dari tindakan bedah robotik ini juga sangat kecil,”. Bedah robotik ini bisa dilakukan untuk operasi prostat, kista endometriosis, mioma, angkat rahim, kanker rahim, dan pembedahan usus.

Rumah Sakit Bunda adalah salah satu rumah sakit yang memanfaatkan teknologi robotik ini. Sejak diperkenalkan pada tahun 2012, ada kurang lebih 250 pasien yang sudah menjalani bedah robotik. Seorang pasien bedah robotik, Natasha, menyatakan bahwa dia tak takut lagi dengan kata operasi berkat bedah robotik. “Rasa nyeri tidak seperti bedah konvensional, pemulihannya juga cepat,” kata Natasha yang menjalani bedah robotik untuk operasi kista endometriosisnya.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif


Bedah Robotik Paling Banyak Tangani Kista dan Miom

Category : articles

Operasi bedah robotik atau robotic surgery rupanya cukup banyak diminati pasien. Dalam waktu dua tahun, sebanyak 150 pasien pertama telah ditangani dengan bedah robotik di Indonesia.  Koordinator Advanced Robotic and Minimally Invasive Surgery (ARMIS) Rumah Sakit Bunda Jakarta, dr. Sita Ayu Arumi mengatakan, bedah robotik hingga saat ini telah banyak menangani operasi mioma uteri dan kista.  “Paling banyak miom dan kista karena orang-orang kenalnya Rumah Sakit Bunda itu kan untuk ibu dan anak. Padahal kita ada rumah sakit umum. Bisa tangani bedah usus, urologi, dan banyak lagi,” ujar Sita.

Bedah robotik merupakan teknologi pembedahan menggunakan tangan robot yang menjadi kepanjangan tangan dokter bedah. Jadi, seorang dokter bedah yang mengontrol atau mengoperasikan langsung robot tersebut.  Menurut Sita, hampir semua operasi bisa dilakukan dengan bedah robotik, kecuali operasi persalinan caesar. Ia mengatakan, dengan bedah robotik luka sayatan pada pasien sangat kecil. Dalam metode ini, alat bedah yang sangat kecil dimasukkan ke dalam perut pasien melalui pusar dan dihubungkan ke dokter bedah dari serat fiber optic ke surgeon consule (simulator).

“Dengan luka sayatan yang lebih kecil akan menguntungkan untuk pasien. Risiko infeksi akan lebih kecil dan pasien lebih cepat pulih sehingga masa rawat inap tidak lama,” terang Sita yang merupakan dokter spesialis obstetri dan ginekologi ini.  Alat bedah robotik yang bernama “Da Vinci Surgery” itu memang baru ada satu di Indonesia. Bedah robotik dimulai pertama kali di Indonesia tahun 2012. Hingga saat ini sekitar 10 dokter telah mampu mengoperasikan robot tersebut.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif

 


Robotic Surgery : Kepercayaan Pasien Mancanegara yang Mulai Berobat ke Tanah Air

Category : news

Pasien dari mancanegara mulai percaya dan melirik sejumlah rumah sakit di Tanah Air untuk berobat.  “Sekarang, sudah banyak pasien dari luar negeri yang datang ke Tanah Air. Kemarin, pasien dari India dan Belanda ke sini,” ujar Direktur Pengembangan Produk dan Teknologi PT Bundamedik, Dr. Ivan R Sini.

Selama ini, sambung dia, masyarakat lebih percaya dengan rumah sakit di luar negeri terutama di Malaysia dan Singapura. “Sekian ratus juta dolar AS dibawa masyarakat Indonesia ke luar negeri. Itu yang harus kita tarik kembali,” tambah Dr. Ivan yang juga dokter di Rumah Sakit Bunda.

Beberapa upaya yang dilakukan untuk menggaet pasien dari luar negeri dengan melakukan inovasi dan menerapkan teknologi mutakhir. “Kualitas tenaga kesehatan kita tidak kalah dengan luar negeri. Masyarakat Indonesia hendaknya memilih berobat di negeri sendiri karena kemampuan tenaga medis dan teknologinya tidak kalah dengan luar negeri serta biaya yang dikeluarkan pun sedikit,” imbuh dia.

Rumah Sakit Bunda juga telah menerapkan bedah robotik. Bedah robotik adalah pembedahan yang menggunakan teknologi tangan robot, yang menjadi kepanjangan tangan dokter bedah. Luka dari tindakan bedah robotik ini juga sangat kecil. Alat-alat canggih tersebut dioperasikan oleh dokter bedah, bukan oleh robot. Operasi yang bisa dilakukan dengan bantuan robot ini adalah operasi prostat, operasi kista endometriosis, mioma, angkat rahim, kanker rahim, dan pembedahan usus.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif


Robotic Surgery Tetap Mengandalkan Keahlian si Dokter Bedah

Category : news

Teknologi terkini yang ada di Rumah Sakit Bunda Jakarta, bedah robotic (robotic surgery) merupakan teknologi pembedahan yang menggunakan bantuan tangan-tangan robot sebagai kepanjangan tangan para dokter bedah. Dr. Ivan R. Sini, SpOG, mengatakan, tindakan bedah robot menggunakan luka sayatan yang sangat kecil, yang dihubungkan ke dokter bedah melalui serat fibreoptic ke Surgeon Consule (simulotar). “Meski bedah robotic merupakan alat canggih, tapi tetap dioperasikan oleh dokter bedah dengan kontrol sepenuhnya, bukan oleh robot,” kata Dr. Ivan.

Menurut Direktur Pengembangan Produk dan Teknologi PT BundaMedik ada pun dokter bedah yang dimaksud adalah tim dokter dari ARMIS (Advanced Robotic and Minimally Invasive Surgery) Rumah Sakit Bunda Jakarta. Lebih lanjut Ivan menjelaskan, sejak diperkenalkan awal 2012, teknologi bedah robotic telah menjadi pilihan pasien dalam melakukan proses pembedahan. “Tindakan ini efektif, efisien, dan menguntungkan bagi pasien karena dapat mengurangi luka sayatan (kosmetik), meningkatkan ketepatan dan akurasi yang tinggi sehingga memberikan hasil operasi yang optimal,” kata Dr. Ivan.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif


Bedah dengan Robot, Lebih Optimal dan Risiko Minimal

Category : news

Sejumlah pasien kerap merasa takut akan menderita rasa sakit, penyembuhan yang lama, atau kecacatan ketika diminta untuk melakukan operasi. Karena alasan itu, tak jarang membuat mereka memilih untuk melakukan pengobatan alternatif. Dr. Sita Ayu Arumi, SpOG, salah seorang tim ARMIS (Advance Robotic and Minimally Invasive Surgery) menyayangkan anggapan dari masyarakat kalau operasi saat ini hanya berupa open surgery, di mana dokter melakukan pembedahan besar secara langsung pada pasien.

Padahal kini, dengan teknologi kedokteran yang semakin maju, sudah ada teknologi pembedahan yang dapat dijalani oleh pasien. Tentunya, pembedahan dapat dijalani dengan lebih optimal, dengan risiko minimal. “Teknologi bedah robotik akan membuat perasi lebih efektif, efisien, dan memiliki keuntungan besar bagi pasien. Sebab, dapat mengurangi sayatan dan tingkat kesakitan yang rendah pada pasien,” kata dia. Apalagi bila menggunakan bedah robotik seperti yang ada di Rumah Sakit Bunda Jakarta, pasien tak perlu terlalu lama mengambil cuti, dan tak perlu takut lagi hasil operasi akan membuat mereka jadi tak percaya diri.

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif

 


Robotic Surgery Bentuk dari Pengembangan Teknologi Kedokteran

Category : news

Dengan kemajuan teknologi sekarang ini banyak penyakit-penyakit yang sudah dapat disembuhkan, begitu juga dengan penyakit yang memerlukan pembedahan. Pembedahan terbuka sekarang sudah mulai dikurangi dengan ditemukannya alat Minimal Invasif seperti Laparoskopi sehingga  resiko operasi terbuka dapat dikurangi seperti infeksi, kehilangan darah yang banyak, perawatan yang lama dll. Salah satu pengembangan untuk minimal invasive yang jauh lebih maju dengan pembedahan menggunakan robot adalah Robotic Surgery.

Robotic Surgery adalah bentuk dari pengembangan teknologi kedokteran yang menggunakan sistem robot untuk membantu   prosedur pembedahan. Walaupun bersifat robotik yang dilengkapi komputer, sistem ini tidak dapat mengambil keputusan sendiri dalam pembedahan, jadi dokter ahli masih berperan dalam tindakan operasinya. Ahli bedah menggunakan sistem komputer untuk mengontrol lengan robot dan ujung-efektor, dan dapat juga menggunakan telemanipulators untuk inputnya . Salah satu keuntungan dari menggunakan metode komputerisasi adalah bahwa dokter bedah tidak harus hadir di kamar operasi,  ahli bedah bisa saja berada dimana saja diseluruhi dunia, dan ini memungkinan untuk melakukan operasi jarak jauh.

Dalam kasus operasi terbuka yang sekarang menggunakan instrumen dari baja, untuk meregangkan iga dapat lebih halus apabila dilakukan dengan robot, gerakan umpan balik yang terkendali   dapat dilakukan dibandingkan dengan memakai tangan manusia. Tujuan utama dari instrumen hebat tersebut adalah untuk mengurangi atau menghilangkan trauma jaringan yang biasanya didapatkan pada operasi terbuka.Keterampilan ini dapat didapat oleh ahli bedah dengan malakukan pelatihan hanya beberapa menit saja.

KEUNTUNGAN

Karena harga dari mesin ini sangat mahal dan, tentunya harganya juga mahal. Di Asia Tenggara Singapore yang mempunyai mesin ini pertama kali. Untuk Indonesia RS. Bunda Jakarta adalah yang pertama. Keuntungan utama dari robotic surgery adalah  :

  1. Beberapa keuntungan utama dari operasi robot adalah lebih presisi
  2. Sayatan yang lebih kecil
  3. Mengurangi  kehilangan darah
  4. Waktu penyembuhan lebih cepat, mempersingkat lama rawat paska operasi
  5.  Angka kesakitan lebih rendah
  6.  Kepuasan terhadap hasil operasi lebih tinggi

Keuntungan lainnya dibandingkan dengan manipulasi biasa adalah    perbesaran tiga dimensi dan lebih ergonomis. Penggunaan robot juga meminimalisasi gangguan pembedahan akibat getaran tangan dokter saat membedah atau menjahit untuk menutup luka.

APLIKASI

Robotic Surgery di dunia sudah sangat luas dan dilakukan untuk berbagai cabang ilmu seperti Kebidanan, Onkologi, Urologi, Bedah Thorax, Bedah Orthopedi, namun untuk di RS. Bunda Jakarta, untuk langkah awal tindakan yang dapat dilakukan adalah :

  1. Myoma Uteri
  2. Kista Ovarium
  3. Hysterektomi (angkat rahim)
  4. Kanker Prostat
  5. Kanker Usus

#janganoperasibesarlagi #savingliveswithbunda #savingliveskanker #minimalinvasif

 

 



RoboticWeek Dry Lab #roboticsurgery #roboticweek #rsiabundajakarta #bmhs1973

Sebuah kiriman dibagikan oleh Robotic Surgery Indonesia (@roboticsurgeryindonesia) pada